Terlepas dari sejumlah kekurangan yang dimiliki bus Transjakarta, rupanya masih ada sisi lain yang patut diapresiasi, yaitu keramahan antarpenumpang di dalamnya.
Keramahan itu antara lain terlihat saat ada penumpang yang tengah hamil, berkursi roda, atau lansia. Tak jarang, penumpang yang telah lebih dulu asyik, merelakan tempatnya untuk diduduki penumpang yang baru masuk, tetapi memiliki keterbatasan tadi.
Bahkan, tak jarang penumpang akan memberi tahu petugas jika ada penumpang yang "membandel". Salah satunya seperti yang dilakukan Rudi (29), penumpang bus Transjakarta yang hendak menuju Cawang. Saat melihat ada seorang ibu muda yang tengah hamil berdiri di bus Transjakarta karena tak kebagian tempat duduk, dia lantas memberitahu petugas on board yang ada di dalam bus. "Kasihan ibu itu lagi hamil, Pak," kata Rudi, Selasa (4/1/2011), kepada petugas itu.
Petugas kemudian meminta seorang pria yang tengah duduk untuk bergantian tempat. Tak keberatan, pria yang memakai kemeja merah itu lantas mempersilakan si ibu hamil tersebut untuk menempati tempat duduknya.
Seperti diketahui, di bus Transjakarta penumpang diharapkan untuk memprioritaskan kepada penumpang lansia, wanita hamil, kendala fisik, dan membawa balita. Bus Transjakarta Koridor IX juga memberi tempat khusus untuk penumpang yang menggunakan kursi roda.
sumber: kompas.com
sigit indratno Blog
Senin, 03 Januari 2011
Khasiat Gelang Power Balance Cuma Isapan Jempol
Produsen gelang Power Balance mengakui tidak punya bukti kuat bahwa produknya seampuh yang digembar-gemborkan selama ini. Sebelumnya, Power Balance gencar mempromosikan bahwa gelang dari bahan silikon yang disertai hologram itu dapat meningkatkan kekuatan, keseimbangan, dan fleksibilitas tubuh pemakainya.
"Kami mengakui bahwa tidak ada bukti scientific yang kredibel untuk mendukung klaim kami dan hal tersebut termasuk perbuatan menyesatkan," tulis produsen gelang Power Balance di situs webnya. Pernyataan itu ditujukan sebagai klarifikasi atas iklan yang mereka keluarkan.
Selain itu, produsen gelang "berkhasiat" tersebut juga meminta maaf jika ada pembeli yang merasa tertipu dengan promosinya. Mereka dapat meminta pengembalian uang melalui situs atau menghubungi hotline yang disediakan hingga 30 Juni 2011.
Namun, pernyataan tersebut baru dikeluarkan produsen Power Balance di Australia karena promosi yang dilakukan dianggap melanggar Undang-Undang Praktik Perdagangan di negara tersebut. Tidak jelas apakah Power Balance juga akan melakukan hal yang sama secara internasional, termasuk di Indonesia.
Selama ini Power Balance telah membanjiri Tanah Air. Tidak sedikit pengguna yang mengenakannya karena percaya dengan khasiatnya bagi tubuh. Apalagi, Power Balance dipromosikan dengan testimoni sejumlah olahragawan dan selebriti dunia. Bahkan, saking larisnya, beredar pula gelang sejenis dengan harga jauh lebih murah.
sumber: kompas.com
"Kami mengakui bahwa tidak ada bukti scientific yang kredibel untuk mendukung klaim kami dan hal tersebut termasuk perbuatan menyesatkan," tulis produsen gelang Power Balance di situs webnya. Pernyataan itu ditujukan sebagai klarifikasi atas iklan yang mereka keluarkan.
Selain itu, produsen gelang "berkhasiat" tersebut juga meminta maaf jika ada pembeli yang merasa tertipu dengan promosinya. Mereka dapat meminta pengembalian uang melalui situs atau menghubungi hotline yang disediakan hingga 30 Juni 2011.
Namun, pernyataan tersebut baru dikeluarkan produsen Power Balance di Australia karena promosi yang dilakukan dianggap melanggar Undang-Undang Praktik Perdagangan di negara tersebut. Tidak jelas apakah Power Balance juga akan melakukan hal yang sama secara internasional, termasuk di Indonesia.
Selama ini Power Balance telah membanjiri Tanah Air. Tidak sedikit pengguna yang mengenakannya karena percaya dengan khasiatnya bagi tubuh. Apalagi, Power Balance dipromosikan dengan testimoni sejumlah olahragawan dan selebriti dunia. Bahkan, saking larisnya, beredar pula gelang sejenis dengan harga jauh lebih murah.
sumber: kompas.com
Distributor Power Balance Protes Produsen
Tak hanya konsumen yang dirugikan dengan iklan soal khasiat gelang Power Balance yang ternyata scam karena disertai informasi yang dilebih-lebihkan tanpa bukti ilmiah yang dapat dipercaya. Distributor produk yang sedang populer itu pun mengaku merasa dirugikan.
Hal tersebut dikatakan oleh salah satu staf Planet Surf selaku distributor produk Power Balance di Indonesia. Ketika ditemui di salah satu toko penjualan resminya di Senayan City, Selasa (4/1/2011), pihak Planet Surf bakal meminta klarifikasi produsen dari Amerika Serikat. Distributor merasa dirugikan produsen karena iklan yang ditayangkan ternyata menyesatkan konsumen dan bisa memengaruhi penjualannya.
Meski demikian, sampai saat ini produk tersebut masih dijual seperti biasa di gerai-gerai Planet Surf dan jaringannya. Dari informasi di Facebook Power Balance Indonesia, satu gelang Power Balance asli dijual seharga Rp 395.000. Selain gelang, produk Power Balance lainnya yang dijual, antara lain, liontin kalung perak seharga Rp 620.000, liontin kalung silikon seharga Rp 450.000, dan Neoprene seharga Rp 395.000.
Sebelumnya, Power Balance di Australia menyampaikan pernyataan terbuka di situs webnya yang mengakui bahwa iklan khasiat gelang Power Balance tidak didukung bukti saintifik yang kredibel. Mereka juga siap mengembalikan uang pembelinya yang merasa tertipu dengan iklannya. Namun, pernyataan ini hanya berlaku di Australia.
sumber: kompas.com
Fenomena Halo Terlihat Jelas di Langit Yogya
Pelangi yang mengelilingi matahari terlihat jelas siang ini di langit Yogyakarta. Fenomena Halo pun disaksikan beberapa warga Yogya yang langsung keluar dari rumah mereka.
Pantauan detikcom di jalan Pacar Baciro Yogya, Selasa (4/3/2011) sekitar pukul 11.15 WIB, udara dan langit di Yogya terlihat cerah. Lingkaran pelangi berdiameter raksasa terlihat indah melingkari titik putih matahari.
"Coba metu, srengengene apik (coba keluar mataharinya bagus)," ujar seorang ibu yang tinggal di sekitar kantor detikcom Yogya kepada beberapa tetangga.
"Oh niku Halo bu jenenge (oh, itu Halo bu namanya)," ucap tetangga lain.
Halo merupakan fenomena alam biasa berupa cahaya yang mengelilingi matahari. Kejadian ini merupakan hasil pembelokan cahaya matahari oleh partikel uap air di atmosfer. Namun awas, jangan mencoba melihatnya langsung dengan mata telanjang.
sumber: detik.com
Pantauan detikcom di jalan Pacar Baciro Yogya, Selasa (4/3/2011) sekitar pukul 11.15 WIB, udara dan langit di Yogya terlihat cerah. Lingkaran pelangi berdiameter raksasa terlihat indah melingkari titik putih matahari.
"Coba metu, srengengene apik (coba keluar mataharinya bagus)," ujar seorang ibu yang tinggal di sekitar kantor detikcom Yogya kepada beberapa tetangga.
"Oh niku Halo bu jenenge (oh, itu Halo bu namanya)," ucap tetangga lain.
Halo merupakan fenomena alam biasa berupa cahaya yang mengelilingi matahari. Kejadian ini merupakan hasil pembelokan cahaya matahari oleh partikel uap air di atmosfer. Namun awas, jangan mencoba melihatnya langsung dengan mata telanjang.
sumber: detik.com
2011, Bank Nasional Kian Melirik UMKM
Bank nasional boleh menepuk dada mengingat kinerja mereka yang gemilang pada 2010. Menurut data Bank Indonesia (BI), hingga pekan ketiga Desember 2010, kredit meningkat Rp7,22 triliun menjadi Rp1.708,15 triliun.
Selama 2010 (year to date/ytd), kredit meningkat Rp277,95 triliun atau 19,43 persen. Sementara secara tahunan meningkat Rp316,73 triliun atau 22,76 persen. Bagaimana prospek perbankan nasional 2011? Mari kita tinjau dulu kinerja komprehensif bank nasional.
Statistik Perbankan Indonesia (SPI) pada Oktober 2010 yang terbit 15 Desember 2010 menunjukkan kredit tahunan (year on year/yoy) tumbuh subur 17,94 persen dari Rp1.377,56 triliun per Oktober 2009 menjadi Rp1.624,73 triliun per Oktober 2010.
Kinerja kredit itu didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) 13,59 persen dari Rp1.864,08 triliun per Oktober 2009 menjadi Rp2.117,44 triliun per Oktober 2010. Kinerja kredit itu mendongkrak loan to deposit ratio (LDR) dari 73,90 persen per Oktober 2009 menjadi 76,73 persen per Oktober 2010.
Kemampuan mengemban fungsi sebagai intermediasi keuangan bank nasional terus melejit mendekati batas bawah LDR 78 persen. Hanya beberapa kelompok bank yang telah memenuhi LDR minimal 78 persen.
LDR Kelompok bank umum swasta nasional (BUSN) nondevisa 79,81 persen, bank asing 91,24 persen, dan bank campuran 98,69 persen. Sebaliknya, LDR Kelompok bank persero masih 77,99 persen, BUSN devisa 72,57 persen, dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) 69,65 persen per Oktober 2010.
Nanti, tatkala LDR belum mencapai minimal 78 persen per 1 Maret 2011, mereka harus membayar penalti berupa tambahan GWM 0,1 persen dari DPK rupiah untuk setiap satu persen kekurangan LDR.
Lebih hebatnya lagi, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/net NPL) menipis dari 3,84 persen menjadi 3,05 persen di bawah ambang batas lima persen. Namun, bank nasional harus mencermati NPL yang mendaki dari 2,96 persen per September 2010 menjadi 3,05 persen per Oktober 2010.
Laba pun meningkat signifikan 21,84 persen dari Rp62,23 triliun per Oktober 2009 menjadi Rp75,82 triliun per Oktober 2010. Hal ini mengerek return on assets (ROA) dari 2,65 persen menjadi 2,94 persen hampir dua kali lipat dari ambang batas 1,5 persen.
Ini simbol kualitas aset bank nasional yang kian berotot di tengah badai finansial global yang belum reda. Bagaimana tingkat efisiensi yang tercermin pada rasio BOPO (rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional)?
Makin rendah BOPO, makin efisien sebuah bank. BOPO bank nasional membaik dari 86,68 persen menjadi 85,93 persen meski belum ideal (70–80 persen). Artinya, bank nasional makin efisien.
Kelompok BPD paling efisien dengan BOPO terendah 73,89 persen di tengah kelompok bank lainnya yang terus berjuang. Lirik saja, BOPO Kelompok bank campuran 82,69 persen, BUSN devisa 86,70 persen, bank persero 87,47 persen, bank asing 88,17 persen, dan BUSN nondevisa 91,94 persen. Kinerja yang diacungi jempol ini merupakan basis kuat dalam menghadapi tantangan 2011.
Kredit UMKM
Apa fokus bank nasional 2011? Selain kredit konsumsi, bank nasional bakal fokus pada kredit menengah, kecil, dan mikro (MKM) dengan pertimbangan berikut. Pertama, prospek ekonomi bersinar. Perekonomian global makin terkendali dan perekonomian nasional mampu tumbuh 6,5 persen.
Dengan basis kinerja tahun lalu yang kinclong, dukungan modal bank nasional yang makin kokoh dan net interest margin (NIM) yang masih tebal, bank nasional siap menggapai profitabilitas tinggi. Kedua, margin tebal. Margin kredit MKM masih tebal sekira sembilan persen.
Karena itu, tidak mengherankan bila BRI pemimpin pasar kredit MKM mampu meraih laba bersih Rp6,66 triliun pada kuartal III 2010. ?Bank ndeso? itu mengungguli laba bersih Bank Mandiri Rp6,39 triliun, BNI Rp2,95 triliun, dan BTN Rp597,24 miliar. Bahkan, BRI akan menipiskan margin hingga delapan persen.
Ketiga, peluang bisnis manis. Menurut BI, 60–70 persen UMKM belum memiliki akses terhadap perbankan nasional. Padahal, hampir 53 juta masyarakat miskin bekerja di sektor UMKM.
Dengan ungkapan lebih jernih, peluang bisnis UMKM masih menganga lebar untuk digarap lebih serius dan agresif. Lihat saja pertumbuhan kredit UMKM telah mencapai Rp893,43 triliun. Kredit investasi naik tajam 32,73 persen. Ini dari Rp61,80 triliun per Oktober 2009 menjadi Rp82,03 triliun per Oktober 2010.
Kinerja tersebut melampaui pertumbuhan kredit modal kerja 25,31 persen. Hal ini dari Rp271,45 triliun menjadi Rp340,15 triliun dan kredit konsumsi 23,77 persen dari Rp380,35 triliun menjadi Rp471,25 triliun.
Data ini mencerminkan gairah bank nasional pada sektor yang satu ini. Pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja yang lebih subur daripada kredit konsumsi menegaskan bahwa sektor UMKM kian mampu mendorong ekonomi rakyat.
Keempat, pelonggaran ATMR. Pada 2012, BI akan menurunkan bobot risiko aset tertimbang menurut risiko (ATMR) kredit pada UMKM dan portofolio ritel dari 85 persen menjadi 75 persen. Apa untungnya bagi bank nasional? Makin rendah ATMR akan makin rendah pula cadangan yang wajib dianggarkan bank nasional. Tegasnya, UMKM kian menjadi tambang emas.
Indikator cantik itulah yang mengundang bank nasional untuk makin rajin menggarap sektor UMKM. Tidak hanya bank lokal, tetapi juga bank asing dan bank nasional yang mayoritas sahamnya dipeluk pihak asing mulai melirik sektor yang legit ini. Sebut saja, Development Bank of Singapore (DBS), Citibank dengan CitiFinancial, Bank Danamon dengan Danamon Simpan Pinjam, CIMB Niaga.
Namun ingat, NPL cenderung menanjak. NPL kredit modal kerja meningkat dari Rp13,45 triliun per September 2010 menjadi Rp13,73 triliun per Oktober 2010. Begitu pula NPL kredit investasi melonjak dari Rp2,79 triliun menjadi Rp2,95 triliun.
Untunglah, NPL kredit konsumsi menipis dari Rp9,19 triliun menjadi Rp9,03 triliun pada periode yang sama. Kunci suksesnya, meski rajin merajut kredit UMKM, tapi bank nasional tetap menjunjung tinggi manajemen kredit risiko. Jangan hanya mengejar target tanpa mempertimbangkan potensi kredit.(*)
sumber: detik.com
Selama 2010 (year to date/ytd), kredit meningkat Rp277,95 triliun atau 19,43 persen. Sementara secara tahunan meningkat Rp316,73 triliun atau 22,76 persen. Bagaimana prospek perbankan nasional 2011? Mari kita tinjau dulu kinerja komprehensif bank nasional.
Statistik Perbankan Indonesia (SPI) pada Oktober 2010 yang terbit 15 Desember 2010 menunjukkan kredit tahunan (year on year/yoy) tumbuh subur 17,94 persen dari Rp1.377,56 triliun per Oktober 2009 menjadi Rp1.624,73 triliun per Oktober 2010.
Kinerja kredit itu didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) 13,59 persen dari Rp1.864,08 triliun per Oktober 2009 menjadi Rp2.117,44 triliun per Oktober 2010. Kinerja kredit itu mendongkrak loan to deposit ratio (LDR) dari 73,90 persen per Oktober 2009 menjadi 76,73 persen per Oktober 2010.
Kemampuan mengemban fungsi sebagai intermediasi keuangan bank nasional terus melejit mendekati batas bawah LDR 78 persen. Hanya beberapa kelompok bank yang telah memenuhi LDR minimal 78 persen.
LDR Kelompok bank umum swasta nasional (BUSN) nondevisa 79,81 persen, bank asing 91,24 persen, dan bank campuran 98,69 persen. Sebaliknya, LDR Kelompok bank persero masih 77,99 persen, BUSN devisa 72,57 persen, dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) 69,65 persen per Oktober 2010.
Nanti, tatkala LDR belum mencapai minimal 78 persen per 1 Maret 2011, mereka harus membayar penalti berupa tambahan GWM 0,1 persen dari DPK rupiah untuk setiap satu persen kekurangan LDR.
Lebih hebatnya lagi, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/net NPL) menipis dari 3,84 persen menjadi 3,05 persen di bawah ambang batas lima persen. Namun, bank nasional harus mencermati NPL yang mendaki dari 2,96 persen per September 2010 menjadi 3,05 persen per Oktober 2010.
Laba pun meningkat signifikan 21,84 persen dari Rp62,23 triliun per Oktober 2009 menjadi Rp75,82 triliun per Oktober 2010. Hal ini mengerek return on assets (ROA) dari 2,65 persen menjadi 2,94 persen hampir dua kali lipat dari ambang batas 1,5 persen.
Ini simbol kualitas aset bank nasional yang kian berotot di tengah badai finansial global yang belum reda. Bagaimana tingkat efisiensi yang tercermin pada rasio BOPO (rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional)?
Makin rendah BOPO, makin efisien sebuah bank. BOPO bank nasional membaik dari 86,68 persen menjadi 85,93 persen meski belum ideal (70–80 persen). Artinya, bank nasional makin efisien.
Kelompok BPD paling efisien dengan BOPO terendah 73,89 persen di tengah kelompok bank lainnya yang terus berjuang. Lirik saja, BOPO Kelompok bank campuran 82,69 persen, BUSN devisa 86,70 persen, bank persero 87,47 persen, bank asing 88,17 persen, dan BUSN nondevisa 91,94 persen. Kinerja yang diacungi jempol ini merupakan basis kuat dalam menghadapi tantangan 2011.
Kredit UMKM
Apa fokus bank nasional 2011? Selain kredit konsumsi, bank nasional bakal fokus pada kredit menengah, kecil, dan mikro (MKM) dengan pertimbangan berikut. Pertama, prospek ekonomi bersinar. Perekonomian global makin terkendali dan perekonomian nasional mampu tumbuh 6,5 persen.
Dengan basis kinerja tahun lalu yang kinclong, dukungan modal bank nasional yang makin kokoh dan net interest margin (NIM) yang masih tebal, bank nasional siap menggapai profitabilitas tinggi. Kedua, margin tebal. Margin kredit MKM masih tebal sekira sembilan persen.
Karena itu, tidak mengherankan bila BRI pemimpin pasar kredit MKM mampu meraih laba bersih Rp6,66 triliun pada kuartal III 2010. ?Bank ndeso? itu mengungguli laba bersih Bank Mandiri Rp6,39 triliun, BNI Rp2,95 triliun, dan BTN Rp597,24 miliar. Bahkan, BRI akan menipiskan margin hingga delapan persen.
Ketiga, peluang bisnis manis. Menurut BI, 60–70 persen UMKM belum memiliki akses terhadap perbankan nasional. Padahal, hampir 53 juta masyarakat miskin bekerja di sektor UMKM.
Dengan ungkapan lebih jernih, peluang bisnis UMKM masih menganga lebar untuk digarap lebih serius dan agresif. Lihat saja pertumbuhan kredit UMKM telah mencapai Rp893,43 triliun. Kredit investasi naik tajam 32,73 persen. Ini dari Rp61,80 triliun per Oktober 2009 menjadi Rp82,03 triliun per Oktober 2010.
Kinerja tersebut melampaui pertumbuhan kredit modal kerja 25,31 persen. Hal ini dari Rp271,45 triliun menjadi Rp340,15 triliun dan kredit konsumsi 23,77 persen dari Rp380,35 triliun menjadi Rp471,25 triliun.
Data ini mencerminkan gairah bank nasional pada sektor yang satu ini. Pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja yang lebih subur daripada kredit konsumsi menegaskan bahwa sektor UMKM kian mampu mendorong ekonomi rakyat.
Keempat, pelonggaran ATMR. Pada 2012, BI akan menurunkan bobot risiko aset tertimbang menurut risiko (ATMR) kredit pada UMKM dan portofolio ritel dari 85 persen menjadi 75 persen. Apa untungnya bagi bank nasional? Makin rendah ATMR akan makin rendah pula cadangan yang wajib dianggarkan bank nasional. Tegasnya, UMKM kian menjadi tambang emas.
Indikator cantik itulah yang mengundang bank nasional untuk makin rajin menggarap sektor UMKM. Tidak hanya bank lokal, tetapi juga bank asing dan bank nasional yang mayoritas sahamnya dipeluk pihak asing mulai melirik sektor yang legit ini. Sebut saja, Development Bank of Singapore (DBS), Citibank dengan CitiFinancial, Bank Danamon dengan Danamon Simpan Pinjam, CIMB Niaga.
Namun ingat, NPL cenderung menanjak. NPL kredit modal kerja meningkat dari Rp13,45 triliun per September 2010 menjadi Rp13,73 triliun per Oktober 2010. Begitu pula NPL kredit investasi melonjak dari Rp2,79 triliun menjadi Rp2,95 triliun.
Untunglah, NPL kredit konsumsi menipis dari Rp9,19 triliun menjadi Rp9,03 triliun pada periode yang sama. Kunci suksesnya, meski rajin merajut kredit UMKM, tapi bank nasional tetap menjunjung tinggi manajemen kredit risiko. Jangan hanya mengejar target tanpa mempertimbangkan potensi kredit.(*)
sumber: detik.com
Sastrawan: Pakai Istilah Bahasa Inggris itu 'Genit'

Penggunaan istilah asing menggantikan bahasa Indonesia sudah menjadi hal biasa, tidak hanya di forum informal, namun juga di forum resmi.
Sastrawan Remy Silado menilai, maraknya penggunaan istilah berbahasa Inggris, antara lain tidak lepas dari peran para lulusan Amerika yang membawa kosa kata itu dalam budaya pergaulan resmi atau tidak resmi di Indonesia.
“Karena para sarjana kita yang bersekolah di Amerika, mereka terbiasa dengan anglo-Amerika. Padahal bahasa-bahasa anglo-Amerika sebenarnya ada yang bukan dari bahasa Inggris baku,” jelas pria yang pernah menjadi wartawan di beberapa media nasional ternama ini kepada okezone, semalam.
“Semisal, kita lebih sering mendengar istilah keynote speaker ketimbang pembicara kunci. Sepertinya agak berat menggunakan istilah bahasa Indonesianya,” sambungnya.
Menurut Remy, masih ada cara lain untuk mempertahankan istilah dalam bahasa Indonesia, ketimbang memilih bahasa asing. Penggunaan serapan, lanjut dia, harus dibiasakan.
“Enggak ada masalah kalau menyerap dari bahasa asing, matikan istilah asing dan sesuaikan dengan ejaan kita sesuai dengan bahasa Melayunya, seperti discount kita ucapkan ‘diskon’. Kita juga sudah mengenal serapan sejak penjajahan Portugis, Belanda, sampai Prancis. Kita bakukan dalam ejaan bahasa-bahasa itu, seperti rodi dan kutang kan kita ambil dari Prancis sewaktu zaman Gubernur Daendels,” jelasnya.
Remy mencontohkan teks proklamasi yang dibacakan Soekarno dan Hatta yang sebagian besar menggunakan istilah serapan.
“Kita melihat misalnya harkat kebangsaan dalam teks proklamasi. Tata bahasa yang menggunakan Melayu hanya ‘yang’. Proklamasi sudah banyak menggunakan istilah Belanda dan bahasa sansekerta. Kalimat “tempo sesingkat-sengkatnya” sudah bahasa serapan,” terangnya.
Remy menyesalkan penggunaan istilah asing yang digunakan pejabat negara maupun instansi pemerintah yang dapat memberikan contoh buruk bagi masyarakat. Penggunaan istilah asing, kata dia, dikhawatirkan menjadi pembenaran sehingga secara perlahan bahasa Indonesia akan dipinggirkan.
“Tidak bisa dibenarkan istilah asing itu oleh siapa pun, walau pun pejabat. Apalagi banyak contoh yang digunakan pemerintah. Istilah-istilah three in one, u turn, under pass, ada juga busway. Pusat bahasa sudah berkali-kali mengkritik Pemda DKI Jakarta untuk mengganti penggunaan busway. Semuanya harus dihilangkan, jangan malu menggunakan bahasa kita sendiri. Pakai bahasa asing itu sama saja genit,” tegasnya.
sumber: okezone.com
DPR: Presiden Wajib Berbahasa Indonesia

Wakil Ketua DPR Pramono Anung menyayangkan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang banyak menggunakan istilah bahasa Inggris, seperti saat menyampaikan pidato di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin.
Pramono berharap SBY tak lagi mengulangi kesalahan yang sama dalam pidato kenegaraan selanjutnya.
Pramono menjelaskan, penggunaan bahasa Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara.
"Undang-Undang itu mewajibkan pejabat negara menggunakan bahasa Indonesia," tegas Pramono kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (4/1/2011).
Karenanya, Presiden selaku simbol negara, lanjut Pram, semestinya memberikan teladan yang baik untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai kesempatan terkecuali dalam forum internasional.
"Harapannya, selanjutnya dalam pidato-pidato resmi, Presiden harus menggunakan
bahasa Indonesia," tutup dia.
sumber: okezone.com
Langganan:
Postingan (Atom)